Terjadi Rabu, 14 January 2009
Astaghfirullah...
Aku tak tahu ini sedang menangis karena apa. Karena kelewat lelah, karena tadi terkunci di tangga sekolah, karena bapak kecelakaan, atau karena mengetahui orang yang diharapkan sebagai takdirku rupanya sudah beristri...
Huff... Iya, kawan, semuanya terjadi hari ini.
Saat ini aku berbaring telentang di lantai tanpa alas dan masih berseragam lengkap sampai jilbab. Kaki ini terkangkang dan tanganku terrentang. Seluruh tubuhku sejajar lantai. Wajahku kaku dan mata ini belum juga mau berkedip sejak beberapa waktu. Oh ... Mataku panas, berair, berair. Napasku jadi sesak seperti penykitan asma yang dipeluk kucing. Beruntung, adzan maghrib berkumandang di tengah senja yang gersang begini--walau sudah 2 hari hujan deras terus.
Tangis ku jadi teralihkan demi menunaikan panggilan sakral nan suci.
Apa sebab tangisku maghrib ini??
Ya, keempatnya terjadi hari ini: tubuhku remuk kelelahan, sore tadi aku terkunci, bapak kecelakaan, dan baru aku tahu si Anu sudah beristri. Semuanya, keempatnya, terjadi di hari ini. Saklek tragis.
Hari ini lelah sekali.
Badanku belum terbiasa sibuk lagi setelah 2 minggu libur. Aku dan Daus (ketua pelaksana acara yang disekretariskan aku) bersikeras untuk menaikkan proposal acara PASKIBRA yang terdekat ini (kerempeng begini, ototku kencang di paskib). Namun itu berarti semua dikerjakan dari awal selain pengetikan. Maka aku musti mencetak proposal dulu, lalu dijilid (pakai uangku untuk sementara), lalu kutandatangani, pergi ke kelas di lantai atas untuk mendesak ramainya para bujang yang wajahnya tidak terlihat karena rupek demi ditandatangani Adam (Ketua Umum PASKIBRA), kemudian turun ke lantai bawah lagi agar ditandatangani si Daus itu (aku melanggar hierarki tanda tangan yang seharusnya), lalu lagi-lagi meniti tangga ke lantai atas untuk ditandatangani Dwi si Ketua OSIS (beruntung, dia juga PASKIBRA), namun karena dia masih berada dalam kerupekan para bujang apek di kelas Adam tadi, maka propsal berharga itu mesti kurelakan untuk ditinggal dulu dengannya karena guru-guru sudah gegas untuk ngajar. Sampai jumpa proposal, sampai jumpa niatan untuk menaikkan proposal ke wakasek hari ini juga.
Benar saja, Dwi baru mengembalikan proposalnya sepulang sekolah. Dan begitu ku cari Daus untuk bersama menaikkan proposal tahap1, rupanya (benar saja!) dia sudah bablas di angkot 09B yang dia sayang itu. Benar-benar sampai jumpa, itu niatan.
Niat tinggal niat.
Badanku lelah tak terkira. Tugas di sekolah sudah banyak, tapi perut ini tidak mau serius berkompromi akibat subsidinya dikorupsi para betakers (pembetak cilik licik di kelas). Aku mahfum, dan perut yang berisi udara mulai bergejolak. Gejolak bagai kaum muda...
Penat betul, Kawan, hingga tak ingin segera pulang.
Maka sepulang sekolah aku bersekutu dengan Umil, yang mendadak licik karnaku, untuk tetap di kelas dan menggunakan komputer kelas untuk nge-net walaupun jam hak kami sudah lewat.
Tak seseru itu, asal kau tahu.
Tiba-tiba dunia maya jadi hambar betul. Kami jadi menjelajah dengan setengah hati dan tidak seru. Tak seru memang tak seru, tapi rupanya lama juga kami main-main di kelas lantai atas. Sampai akhirnya bosan dan lewat jam 5, kami turun juga. Tapi turun tak jadi turun. Allah, gerbang tangga terkunci. Digembok selapis. Aku dan Umil sempat mematung sebelum akhirna panik mencak-mencak. Teman di luar sempat mengejek, beberapa. Dan saat berusaha mencari Ka Akhmad yang pegang kunci di atas, rupanya sepi sama sekali. Siapa yang mungkin bisa membukanya???
Pak Anas!
Tapi yg lewat rupanya staf lain yang tak aku tahu namanya. Maka kutanyakan padanya.
"Wah, Akhmad-nya sih lagi makan. Pak Anas juga."
Lalu lewat lagi staf yg lain.
"Akhmad-nya mah nanti pulangnya, jam 8" lalu "Paling nemuin cewe-nya."
Aku dan Umil, satu pun tak ada yang mau menunggu segitu lamanya. Lalu lewat si Arif. Menertawakan kami. Hanya untuk menertawakan, lalu bablas yang katanya ingin mencari Nanda agar penderitaan kami ini segera difoto. Sadis! Dobel! Sampai akhirnya di depan gerbang tangga yang menyengsarakan kami ini mulai ramai. Ada pak Anas, Staf yang tadi, guru olahraga beserta kawannya, dan Arif! Sadis! Tiga kali! Habis aku dan Umil dibuat malu tak terperi begini. Semua tertawa. Staf tadi bilang: "Jam 9 malam, katanya. Sini, kalau pesan nasi bungkus, biar saya bungkusin." Lalu semua tertawa lagi. Aku dan Umil panik lagi, dan si Arif kegirangan lagi. Aku jadi sewot lagi.
Setelah tawa yang lebih ramai dan lebih lama, akhirnya staf tadi bilang: "Udah, sana pulang." sambil menggeser gerbang yg tadi terkunci.
Aku dan Umil jadi lega dan kesal. Semua tertawa makin keras. Arif makin girang dan aku makin sewot jadinya.
Sadis! Lipat-lipat kesialan!
Buntutnya aku sampai di rumah di menit-menit dekat maghrib.
Sudah dua, kau hitung?
Menit-menit menuju adzan maghrib di waktu Indonesia Barat.
Aku kesusahan tergopoh-gopoh turun dari angkot 03 akibat barang bawaan dengan bobot taraf kuli kakapan. Muka penumpang yang dekat pintu angkot menceng-menceng saat aku turun. Aku tak enak hati tapi masa bodo.
Melewati pagar rumah, yang aku cari adalah telapak tangan kakek, Bapak, Ibu, dan kakak yang kalau lengkap lima jumlahya. Dan yang pertama kali aku salami tangannya adalah Bapak. Tangannya saja, karena begitu Bapak bersuara, aku baru menoleh wajahnya.
Masya Allah..
Wajah itu. Wajah yang hitam matahari, yang tegas dan mancung itu lebam dan babak belur. Bapak mengerikan bukan karena marah, melainkan akibat merah kulit di matanya, biru pipinya, namun ungu bibirnya. Rupanya Bapak kecelakaan tadi pagi sewaktu mengantar Mba Teti (kakakku no.4) kuliah. Dampaknya, Mba Ade (no.2) bolos mengajar, Mba Teti batal kuliah hari ini, Mba Arni (sulung) dan Mas Feri (no.5) pulang dari tempat kerja setelah dihubungi Ibu yg juga bolos mengajar hari ini.
Masya Allah...
Waktu kusalami, Bapak hanya bicara sedikit yang sungguh, aku tak mengerti betul apa katanya. Tapi aku ingat bahwa Mba Ade (tebak nomor brp!) berkata bahwa Bapak tak mau dibawa ke RS (Bapak benci dokter dan hal lain yg berbau RS). Dia takut Bapak sampai geger otak.
Memang, bapak bicara lbh sedikit dari biasanya. Mungkin bagi orang lain porsi bicaranya normal, tapi Bapak biasa banyak bicara. Dongengna malam ini betulan hemat kata bagi kami.
Masya Allah...
Nyeri ini Kau tambah lagi. Aku terima adanya. Tulangku sudah remuk redam di sore hari begini. Harga diriku sudah tandas lumayan begini, dan sekarang cemas dibiarkan menggerogoti halus perih begini.
Aku nyeri...
Malam dingin...
Hujan deras lagi...
Obat hatiku rupanya mulai kritis. Dan ada saja kehendak-Nya yg berada di luar dugaan siapapun.
Dan sekali lagi hati ini dilukai.
Tak ada yg salah dalam hal ini, sungguh.
Hanya saja perih bukan buatan. Seperih kabar Bapak kecelakaan yg sebabnya tak ingin ku ucap di sini.
Si Anu rupanya sudah menikah, kawan, sejak lama. Tandas sudah bayang-bayang tak berguna yg selama ini ku hayati. Bersimbah-simbah dosa yang selama ini kulalui hanya demi memimpikan takdir. Berharap dia berpihak pada inginku yg sekarang. Sadis lagi...
Sudah pernahkah ku sebut? Perkara dayang jatuh cinta lain berat lagi perkaranya. Karena secepat apa dia reaksi bawel, semudah itulah ia mudah sakit hati. Perih terkorek pahat pria beristri.
Ah, ingin rasanya aku ceritakan perkaranya dari awal. Terserah ada tidak yang mau dengar. Tapi tak semudah itu. Biarlah sedikit yg tahu. Tapi nyeri malam kamis ini tetap ingin kubagi...
Ugh... Malam begini dingin.
Tapi sedihku diisi sadis berlipat-lipat...
Adakah yang punya jawab???
UncategorizedJanuary 15, 2009 12:43 am
2 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://adaapaan.blogsome.com/2009/01/15/saklek-tragis/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>




Assalamu'alaikum Wr. Wb. ......
maaf jika nanda bego dan baru sadar ......
nanda ga' mengerti .....
mingkin maaf ini telah ga' berarti ......
jika ingin marah pada nanda ....
gpp koq ....
buat pilihan .....
Comment by nanda tzb — January 23, 2009 @ 10:05 pm
I'm frightened at night and the wind has a roar
It seeps through the hall and from under the door .............. mungkin kata 'maaf' telah tiada
makna, buat pilihan ......
Comment by nanda tzb — January 30, 2009 @ 2:46 pm