Nisa memandangi lampu kamarnya, seolah-olah lebih tinggi daripada bulan. Rupanya Nisa habis memandangi rambutnya yang tipis, lepek, kering, dan kusam di cermin. Penampilan selalu jadi kompor bagi rasa mindernya, dan cermin selalu jadi bahan bakarnya. Lampu kamarnya masih tergantung di bulan sampai ibu teriak dari ruang tengah.
“Nis, udah tidur belum? Katanya besok mau berangkat subuh…”
Zup!
Lampu kamar seketika kembali lagi ke Bumi. Nisa cepat-cepat menarik selimutnya dan berusaha keras untuk tidur. Dahinya berkerut ketika memejamkan mata, memaksa keresahannya keluar dari kepala. Duh, Nisa kan harus cepet-cepet tidur…
---Radyan Aziz---
Selasa. Sepekan setelah kerontokan dan kegersangan di kepala Nisa memantik kejanggalan dalam hari-harinya. Rasanya angin lebih dingin dari biasanya, membuat Nisa seringkali mengusap-usap leher atau lengannya yang telanjang. Padahal rambutnya panjang sepunggung, mestinya Nisa gerah. Namun rambutnya yang mengecewakan cukup menjadi alasan baginya untuk punya malu yang lebih. Malu sebagian dari iman, tapi malunya Nisa sebagian dari imej. Mudah-mudahan juga menjadi sebagian dari hidayah.
“Aku kelihatan aneh banget ya?” tanya Nisa.
“Apaan sih, Nis?” Rika menekan hidung kacamatanya sambil menunda suapan soto ayam. Di sekitar mereka berdua, puluhan gadis dan bujang sporty lalu lalang memesan makan siang di kantin kampus.
“Emang ga keliatan? Rambut aku tuh sekarang rontok banget, Rik… Kering, tipis, merah lagi. Kaya anak SD main layangan. Kayanya sejak kuliah di Jakarta deh.”
“Makanya pake jilbab, Nis. Kaya gue. Rambut gue kan diumpetin, jadi ga disirikin sama orang banyak. Sampe sekarang, rambut gue tentram-tentram aja. Ya ga?” Waktu bilang begini, dagu Rika naik-naik, menaikkan posisi kata-katanya di hadapan Nisa yang justru jadi mendekatkan dagunya sendiri ke leher. Sinyal mundur.
“Iiih, tau deh yang rambutnya selevel tiara Sunsilk. Ada juga kalo aku pake jilbab malah jadi botak, Rikooo…” Nisa meremas bajunya. Nadanya memanja, membuat Rika nyengir sambil terdanga-danga menahan gemas.
Rika merapikan pinggir jilbabnya yang lumayan lebar. Nisa menyusuri detil-detil yang nampak pada sahabatnya. Mata Nisa berbinar-binar mengamati segi-segi Rika yang baginya mengagumkan.
“Aku belum siap, Rik. Sholatku ga sehebat kamu…” ucapnya lirih sambil mengamati Rika dengan soto ayamnya.
“Yaelah, Nis. Apaan sih? Lo kan lebih cewek, lebih anggun daripada gue. Pokoknya lo lebih pantes dah jadi akhwat, lebih muslimah.” Rika menelan dan melanjutkan dengan tenang, “Jilbab bukan soal begituan, Neng. Jilbab soal identitas kemuslimahan kita. Tanpa jilbab apa bedanya elo sama cewek non islam yang lain? Kalo lo belom ngeluarin KTP ato akte kelahiran, belum tentu orang percaya.”
Hening di kepala Nisa, yang terdengar hanya gema kata-kata Rika. Padahal kantin FIK UNJ makin ramai oleh cagur-cagur kelaparan.
“Ato ga, kaya lo sendiri, Nis. Lo, kalo belum ada pink sedikitpun di tubuh lo rasanya belum jadi wanita kan? Sama aja kaya muslimah. Kecuali kalo lo muslim cowok, terserah dah mau pake jilbab apa ga. Gue biarin.”
“Iiiih, Rikooo…” Nisa menggungcang lemah tubuhnya dengan manja. Menahan senyum.
“Yee, bener kan? Enak dah pake jilbab. Kalo gue lewat, pasti didoain sama cowok-cowok di pinggir jalan. Lo ga kan? Palingan ditanya, ‘Mau kemana, Neng?’ Ya kan?”
“Didoain kaya gimana?”
“Assalaamu’alaykum, begitu.”
---Radyan Aziz---
“Yo, kopi yo! Abis, abis, abeees!!!” Kernet 47 bersemangat sore, membongkar muatan metro mini sedari Pasar Senen.
Nisa buru-buru turun. Jalanan semrawut, membuat dada terasa sesak setiap kali harus melewati percabangan jalan yang mirip terminal ini, selama Nisa menuju angkot 03 via Bintara di dekat Rumah Sakit Islam. Sebenarnya bisa saja Nisa langsung naik 03 setelah turun dari 47, namun Nisa tak cukup sabar untuk menerima kenyataan bahwa ngetemnya 03 cukup lama untuk membuatnya ‘mendidih.’ Kini Nisa berjalan kaki menjemput abang angkot yang bersamanyalah Nisa ditakdirkan oleh Allaah untuk mengarungi perjalanan bersama menuju Duta Kranji.
Di pinggir jalan, terlihat bocah-bocah berbusana muslim rapi berjalan bersama-sama. Oh, hari sudah sudah agak gelap. Mereka hendak ke masjid untuk shalat maghrib dan belajar mengaji.
Di ujung simpangan, dekat 506 yang sedang menunggu penuh penumpang, seorang bapak tua lusuh kisaran 70 tahun duduk tanpa alas menjajakan kaligrafi. Penampilannya lusuh, lelah, kusut masai, dan sandal Swallow-nya yang kuning sudah tipis. Nisa iba, tapi takut. Bapak ini punya alis yang tebal dan terlalu dekat dengan matanya. Dagunya yang agak ‘terdepan’ juga membuat jenggotnya yang acak terlihat menyeramkan. Seram. Tapi kan kasihan,
Si Bapak Tua dengan lemas menawarkan kaligrafi kepada ibu-ibu yang lewat di depannya. Satu-satu.
Aku nunggu ditawarin aja deh.
Mendekati si Bapak Tua, Nisa melambatkan langkahnya. Matanya curi-curi pandang dengan ekspresi yang dibuat senormal mungkin. Nisa tepat di depan si Bapak Tua, namun Si Bapak Tua hanya meliriknya sebentar lalu kembali menebar pandangan. Nisa sudah melewatinya dengan langkah selambat mungkin, namun si Bapak Tua acuh saja.
Nisa iri. Kenapa dia ga ditawarin, padahal asal ada ibu-ibu yang lewat ditawarin?
Jangan-jangan karena rambut aku yang merah kaya main layangan ini, si Bapak ngirain aku orang miskin?
Namun Nisa yakin, ia musti berani. Si Bapak pasti butuh uang. Ah, Nisa ribet deh.
Nisa balik-kanan-maju-jalan mendekati si Bapak Tua. No excuse, Nisa tau si Bapak itu serem, tapi menolong orang ga boleh pilih-pilih! Langkah Nisa mantap.
“Bapak! Kaligrafinya berapaan, Pak?!”
Si Bapak kaget mendengar Nisa yang bertanya keras-keras. Maklum aja, Nisa lagi grogi.
“Eh? Yang ini 50 ribu, yang paling gede 80. Kalo yang kecil-kecil 15-an.”
“Mmm, aku mau yang kecil 2 ya Pak. Yang Allaah sama Muhammad.”
“Oh, iya.” Si Bapak segera membungkus kaligrafi satu-satu dengan kertas Koran. “Neng islam ya? Kok beli kaligrafi? Buat siapa?”
“Buat aku… Emang aku ga keliatan kaya orang islam ya Pak? Pantes. Pas tadi aku lewat, Bapak ga nawarin ke aku.”
“Yah, mana Bapak tau, Neng kan ga pake jilbab. Kalo tau mah, musti Bapak tawarin. Ni Neng, jadi 30 ribu.”
“Nih, Pak. Kembaliannya ambil aja,” Nisa menyerahkan uang 50 ribu dan langsung pergi tanpa memerhatikan sahutan terima kasih si Bapak. Sambil berlalu, cowok-cowok yang nongkrong di pinggir jalan memandanginya dengan cermat.
“Cantik, mau kemana? Ih, kok diem aja sih?” seorang cowok yang paling kurus menegurnya. Nisa acuh saja, pandangan mereka yang buas membuat Nisa ingin segera pulang sampai…
“Allaahu akbar, Allaahu akbar…”
Sudah adzan. Nisa tidak jadi menghampiri abang angkot yang dari tadi melambai-lambai padanya, dan memperpanjang langkahnya menuju Rumah Sakit Islam untuk shalat di masjidnya. Maaf, Bang. Rupanya bukan Abanglah yang ditakdirkan Allaah untuk membawa Nisa.
---Radyan Aziz---
Kamar Nisa. Nisa memandangi pantulan dirinya di cermin dan menemukan rambut merahnya yang rontok di sisir. Rasanya suasana sepi dan waktu berjalan lambat selama Nisa melamun pilu. Padahal kereta ekonomi sedang melintasi rel di belakang rumahnya.
“Nis, belum tidur? Ngaca aja nih.”
Tiba-tiba Ibu sudah di kamar tanpa Nisa sadari.
“Eh! Ibu? Iya, Bu. Ini baru mau tidur.”
“Besok ke kampus kan? Jangan lupa mintain pesenan Ibu sama Rika ya.”
“Iya, Bu. Insya Allaah. Ntar aku sms dulu, biar Rika besok bawain.”
Ibu tersenyum lalu keluar. Nisa mengingat wajah ibunya. Perempuan di rumahnya hanya mereka berdua. Ibu udah berjilbab kalo keluar rumah. Kok aku ga disuruh pake jilbab ya?
---Radyan Aziz---
“Rik, pake jilbab susah ga sih?” kata Nisa sambil jalan kaki di pinggir jalan besar menuju kampus B UNJ.
“Ga kok. Jangan dibikin susah lah. Kan ada jilbab yang langsung pakai, ga perlu dikasih peniti lagi.”
“Bukan itu. Kan kalo pake jilbab harus lancar ngaji, ga pacaran, jaga perilaku, yang begitu itu kan susah ya?”
“Yey, itu mah emang wajib buat semua muslim, Nis. Ka Ihsan aja ga pake jilbab, tapi ngajinya merdu, ga pacaran. Ya kan?”
“Ih. Ya iyalah, ga pake jilbab. Kok Rika bawa-bawa ka Ihsan sih?” Nisa tersipu-sipu senang. Pipinya bersemu jambu.
“Biarin aja. Seneng kan?”
Nisa menunduk malu, dan menahan senyumnya yang lebar.
“Busana cuma kemasan, Nis. Akhlak isinya. Tapi busana juga cerminan akhlak. Pernah ke toko buku kan? Di sana ada buku sampel yang ga disegel, ada juga buku yang masih disegel rapi. Kamu mau beli yang mana?”
“Ya yang disegel lah.”
“Kenapa?”
“Kalo yang ga disegel itu biasanya kan bekas dibaca-baca orang. Paling-paling halamannya udah kotor, lecek, bahkan sobek.”
“Nah, tuh tau.” Kata Rika. Nisa manggut-manggut, merasa paham. Dari arah berlawanan, seorang akhwat cantik juga berjalan.
“Assalaamu’alaykum,” sapa si Akhwat Cantik. Senyumnya manis, sambil menatap Rika dia terus berjalan melewati Rika dan Nisa.
“Wa’alaykum salaam.” Rika dan Nisa menjawab bersamaan. Rika menjawab sambil tersenyum, tapi Nisa menjawab sambil heran sendiri.
“Itu siapa, Rik? Temen kamu?” Tanya Nisa.
“Bukan. Ga tau siapa.”
“Lha? Terus ngapain dia tegur kamu?”
“Kan kita sama-sama muslim, emang biasa saling ngucapin salam. Emang lo ga pernah, Nis?”
“Ngga. Apa karna aku ga pake jilbab kali ya, Rik?” Nisa layu.
“Udah, ga usah ngiri. “ Rika menepuk-nepuk bahu sohibnya.
“Eh iya, kamu bawa sulaman titipan ibu kan? Yang semalem aku sms.”
“Bawa. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Fotokopiin catetan fismat kemaren yak, hehe…”
“Iya deh,” jawab Nisa memandangi Rika dengan lembut. Nisa yang seringkali diledek sahabatnya itu, sebenarnya begitu mengagumi Rika. Rika cantik, walau tubuhnya tinggi besar, walau suka ngupil sembarangan dan berjalan dengan sangat tidak anggun. Tapi ada 2 hal yang menegaskan kewanitaan Rika bagi Nisa: Rika jago masak dan menyulam. Dari sanalah anggaran kegiatan Rika di luar kuliah terpenuhi.
Nisa tahu bahwa berjilbab itu wajib. Nisa paham. Tapi ada benteng seribu alasan yang menghalanginya. Nisa melamun di jendela MUA (Masjid Ulul Albaab), melihat ke arah perumahan di gang-gang sempit dari sana.
Muslimah, teduh bersamamu
Di matamu aku tak melihat dunia, yang aku lihat cahaya
Di ujung jemarimu ku lihat kontribusi, bukan ayunan basa-basi
Di helaan nafasmu terhembus angin kesejukan, bukan ajakan atau godaan
Bersamamu aku mengerti hidup
Yang orang-orang sebut sebagai mati
Aku mengenal Sang Ilahi
Yang padahal belum pernah ku lihat sendiri
Nisa memutuskan koneksi lamunan dan menegakkan punggungnya. Yak! Jilbab tak akan membuatku botak! Aku tahu apa yang benar, dan akan aku jalankan apa-apa yang aku tahu itu benar! Seharusnya dari dulu, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
---Radyan Aziz---
Hari ini cerah sekali. Leher Nisa basah kuyup, namun tak terlihat. Yap, Nisa pakai jilbab. Kurang lebih sudah 2 bulan. Segalanya berbeda sekali. Di mata Nisa, semua tidak ada yang sama lagi. Warna langit saja katanya sudah berbeda.
“Sejak aku pakai jilbab, langit di Bekasi warnanya kaya langit di Amsterdam, Rik!” kata Nisa berbinar-binar. Rika manyun saja mendengarnya. “Mana pernah ke Amsterdam? Ke Jakarta aja baru ke kampus sama Monas doang.”
Walau ka Rio, kakak Nisa semata wayang, sering meledeknya, Nisa hanya menjawab, “Ya, semoga Allaah cepet-cepet ngasih hidayah ke kakak deh.” Ibu mendukung Nisa berjilbab, ayah juga terlihat bangga walau wajahnya pias dan tidak berkomentar. Si Ayah memang orangnya kaku.
Rika yang paling getol. Dua lusin rok, kemeja, jilbab, dan bergo dihibahkannya buat Nisa. Mulai dari miliknya yang layak pakai, sampai yang baru beli. Mengajak Nisa ikut kegiatan ini-itu, apa saja yang bermanfaat demi memantapkan hati Nisa yang baru berhijab. “Ingat, Nis. Busana cuma kemasan! Isinya harus lebih indah dari busananya ya! Oya, sekarang pake rok aja yah, celananya buat di rumah aja.” Ajakan Rika yang manfaat membuat Nisa melupakan ka Ihsan sebagai sosok yang istimewa. Baginya, daripada melamunkan ka Ihsan, lebih baik baca buku atau belajar Fismat.
Sepanjang Nisa berjalan kaki, dunia pun memperlakukannya dengan berbeda. Aroma pagi lebih harum dari biasanya, lagu ayam jantan juga lebih merdu. Seperti sapaan orang-orang tak dikenal padanya: “Bu Haji.” Kalau sudah dipanggil begitu, Nisa senyum-senyum sendiri sambil mengamini. Jika lewat depan tongkrongan cowok-cowok pinggir jalan, sekarang mereka mengucapkan salam. Bukannya, “Cantik, mau kemana sih?”
Setiap kali melewati perempuan manapun yang berjilbab, Nisa mengucapkan salam. Kalau sudah begitu, kebanyakan dari mereka merasa heran sementara Nisa tersenyum girang.
Dan jilbab tak akan membuatmu botak.
Rambut Nisa sekarang kembali hitam dan sehat. Memang, harus pintar membuat rambut tetap bernafas. Untung Rika juga membagi tips-tips rambut sehat Tiara Sunsilknya. Perbedaan terbesar ada di dalam hati Nisa. Terlalu sulit dilukiskan bagaimana rasanya. Jika Anda sudah menjilbabkan hati Anda, Anda pasti tahu rasanya. Jika belum, cobalah! Dan rasakan nikmat dan karunia yang tak akan pernah bisa Anda pahami sebelum mengalami.
Percayalah.