sajakJune 18, 2009 10:37 am
Dari jauh, Ahmad sudah kelihatan dari tempat dudukku. Menjulang tinggi seperti tiang bendera, tetapi memiliki mata dan sedikit lebih cokelat. Melihatnya melangkah jauh dan lebar-lebar, aku ngeri. Walau sudah biasa, aku masih suka ngeri akan sosoknya.
“Lang, buku Biologi ane ada di ente ga?” sahutnya sambil melangkah semeter demi semeter mendekatiku. Alisnya bergelombang dan ini menyangkut Biologi, maka aku tahu dia sedang serius.
“Ha? Ng .... Nggak, kayaknya.” Jawabku sekenanya. Ahmad gerah. Bibirnya dikerucutkan sambil menggaruk atas tengkuk. Aku dapat melihat sikunya lancip, sendi dan tulang mendorong-dorong setiap jengkal kulitnya. Dia menunduk kecewa dan aku terdanga-danga demi menyaksikan sepotong wajahnya. Silau dan jauh.
“Duduk dulu, Mad?” tawarku sambil menarik wajah ke langit.
“Nanti, mau cari buku dulu,” jawabnya dengan menjauhi pandanganku. Kemudian menjauh dan aku hanya bisa melihat punggungnya yang tinggi, panjang, namun sempit. Melihat Ahmad sama dengan memaksa manusia menebak berapa tinggi dan berat badannya. Akhirnya aku dapat melihat kepalanya tanpa mendanga saat Ahmad berada pada radius 200 meter.

--- Radian---

Ahmad, karibku, berada tepat dua meter dari perutku. Ahmad sedang duduk di kursi kantin dengan lutut yang naik menjauhi pinggang karena bangkunya terlalu pendek baginya. Sepertinya keadaan itu sulit bagi orang yang menjulang menjauhi pusat Bumi sepertinya. Aku ambil posisi sebelahnya dan mendanga lagi. Detik jam sudah berputar berkali-kali sejak itu.
“Mad, ente mau apa milad nanti? Tujuhbelasan kan?” tanyaku. Bibir bawahku naik ke atas dan kedua alisku naik turun bersamaan. Ahmad menerawang ke atas, seakan atap Kantin Sabar Menunggu jauh di atas ubun-ubunnya. Nafasku tertahan menunggu jawabnya.
“Ingin lebih gemuk, Lang. Enam kilo, aja.” alis Ahmad bertemu. Sekarang dagunya mendekati leher. Wajahnya seperti aktor telenovela yang sedang menatap matahari terbenam. Sendu, malang, tapi seksi.
“Yah, ane kira apaan. Padahal, kalo barang, bakal ane kasih, Mad.”
“Yaudah, ane pengen motor,” jawabnya dengan nada manja menatapku. Aktor telenovelanya berubah menjadi wajah Joshua Di Obok – Obok. Tidak seksi lagi.
“Oh .... minta aja sama Bokap.” Duong! Kepalaku melayang sebentar setelah dihuyung oleh tangan Ahmad yang lebih lebar dari mukaku. Beruntung hanya dihuyung. Coba saja kalau wajahku dilahap tangannya, lebarnya masih akan tersisa untuk mencolok kedua lubang telingaku. Menyakitkan dan geli semriwing. Tapi tak semenyakitkan jika leherku dikempit di ketiaknya dengan begitu mudahnya.
---Radian---

Ahmad tak ingat berapa hari lagi, tetapi dari ucapanku kemarin katanya dia sadar bahwa hanya tinggal hitungan hari dan dia akan harus segera mengurus KTP, dan berlatih mencontreng dua kali seminggu untuk bersiap menghadapi Pemilu. Dan rupanya dia serius masalah enam kilo yang kemarin. Aku lihat dia merubah kebiasaan membeli makanan berat berlimpah menjadi makanan berat meluap, melahapnya habis sampai akhirnya berjalan terhuyung ke kelas dengan wajah biru menahan mual akibat lambung yang sudah melar sana-sini. Wajahnya kupras dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku dibandingkan mengobrol. Bukunya itu adalah macam-macam buku yang sebagian besar bertuliskan DIET atau BERAT BADAN. Mungkin kesulitan menemukan sumber info menggemukkan badan membuatnya mencari kata “diet” dan mencoba menentangnya.

H-7 milad Ahmad.
Ahmad ke sekolah membawa segepok tempe mendoan. Aku heran tapi senang karena pasti akan dapat bagian barang satu-dua biji. Aku pikir dia mempercepat perayaan miladnya yang 2 April menjadi sekarang dengan mentraktir anak sekelas tempe mendoan buatan Mama tersayang. Karena heran, aku bertanya.
“Ini buat bekel. Hemat jajan. Lagian, di buku bilang, golongan darah B itu cepet gemuk kalo makan tempe, tahu, sama sejenisnya yang kedelai juga. Oh ya, hari ini ga berlaku transfer tempe ke temen sebangku, ya,” jawabnya tenang. Aku kecewa. Di sudut mataku terlihat bayangan Adi yang sedang jaipongan seperti penari kecak.
“Lagian, ngapain juga traktir anak sekelas pas milad? Rugi. Mending duitnya buat Ummi,” tambahnya dengan manyun. Kuberi tahu, surga di bawah telapak kaki ibu adalah motto hidupnya. Sedikit kulihat Adi berlagak seperti Dewan Keamanan PBB yang berusaha mendamaikan Israel dengan Palestina.
Ahmad kembali sibuk mengobrak-abrik buku paket Biologi selama bel belum kelewat bawel. Tapi beda dari biasanya, kali ini sambil mengunyah tempe mendoan sampai bibirnya menjadi sensual akibat torehan minyak berlebih.

H-6 milad Ahmad.
“Mad, kata Pak Sugi, olahraganya bebas. Main bola yuk?” ajak seorang lelaki baik hati yang setelah ditelusuri, rupanya adalah aku sendiri.
“Ga sekarang, deh, Lang. Lagi hemat kalori,” jawab Ahmad.
“Ayo, dong. Masa sendirian di kelas, yang lainnya cewak semua? Ih,” bujuk lelaki baik tadi. Ahmad tetap menolak dan berkata bahwa dia tidak akan tetap di kelas nantinya, tetapi hijrah ke kantin Sabar Menunggu. Aku pasrah. Apalagi, para bujang XI IA 2 sudah berisik mengelu-elukan nama Gilang untuk segera bergabung main bola. Aku tak tega menolak keinginan mereka. Maka aku beranjak meninggalkan Ahmad dengan sekarung tahu bacem.

H-5 milad Ahmad.
Ada aura tak sedap menghampiri bangku kelas tempat punggungku bersandar. Seperti aura yang mencerminkan kesesatan, kelicikan, dan keloyoan. Sebenarnya tak ingin, tapi leherku berputar ke arah pintu kelas. Tak lama muncul sumber aura tadi. Betul kataku tadi: keloyoan. Ahmad yang tetap menjulang tinggi berjalan tak seimbang. Terlihat seperti sedang menjaga agar dagunya tidak menghampiri Bumi. Taksirku, ada yang tak beres dengan perutnya.
Benar saja. Sejarahnya begini.
Setelah mengamati berat badan sendiri sejak memulai memperbanyak tempe sampai kemarin, dia tidak menemukan kenaikan berat badan walau sekilo. Ahmad merasa dikhianati profesor bule yang botak di kover buku dietnya. Sehingga dia beralih pada pandangan kuno bahwa yang membuat manusia gemuk adalah lemak. Itulah jalan pikiran yang terbiasa instan. Dan situasi mendukungnya. Semalam, sang Ummi tersayang memasak semur kambing. Dan itulah yang menjadi makan malam dan sarapannya. Dan tebak berapa banyak porsi yang ia makan? Masing-masing dua kali porsinya yang biasa.
Wew!
Porsinya yang biasa saja setara dengan segelas susu. Eh, bukan. Dua kali porsi Gilang yang ganteng! Banyak kan? Dan angan-angan lebih gemuk enam kilo membuatnya lupa dengan penyakit darah tinggi yang diturunkan Abi, suaminya Ummi tersayang. Jadinya, tak usah dijelaskan lagi kan mengapa tubuhnya yang semampai (segala meter pun sampai) nan cungkring ditemukan berjalan terhuyung-huyung, dengan pucat pula! Dengan tulus, akhirnya segera kuhampiri Sam (nama aslinya Samsul) yang notabene adalah anggota PMR agar segera menyeret anak loyo itu ke UKS. Tak lupa, kuperingatkan Sam untuk tidak memapahnya, karena dapat dibayangkan apa yang akan terjadi.
Semoga keteledoran yang sama tidak terjadi padaku, Ya Allah .... Amin.

H-4 milad Ahmad.
Aku tetap bertemu Ahmad, tapi bukan di sekolah karena ini hari Minggu. Saat OL di MSN jam sembilan pagi, aku lihat nickname baru: mad_mutz. Menjijikkan. Tapi aku tahu itu pasti si Ahmad. Benar saja.
mad_mutz: lang
akhi_gil: hoi?
mad_mutz: td an nimbang. naek. hmpr 1/2 kilo
akhi_gil: masa?
mad_mutz: kya’a. jrum’a geser dkit
(lama sunyi dariku)
akhi_gil: oo...

H-4 milad Ahmad.
Tidak biasanya si Ahmad lengket sama Hanif yang biasa dipanggil Gendong, Gempal Bodong. Tadi, mereka berdua jalan beriringan keluar kelas dengan membawa gembolan yang dibawa dari rumah masing-masing. Aku tanya Ahmad ketika dia kembali ke kelas dengan bibir yang sensual seperti biasa. Aku bilang bahwa aku mencium bau persekongkolan mereka. Benar lagi. Feeling orang ganteng biasanya memang kuat.
Jadi, Ahmad dan Hanif telah mengikat diri mereka dalam simbiosis mutualisme. Ahmad ingin sekali gemuk sedang Hanif menginginkan kurus. Terhimpit sang mama yang selalu membuatkan bekal untuk sekolah, Hanif yang motto hidupnya sama dengan Ahmad dan berhati selembut handuk merasa serba salah dengan bekalnya. Jadi dia memberikan setengah porsinya —yang sama dengan satu setengah porsiku—untuk diberikan pada Ahmad. Dapat dikatakan bahwa kerjasama mereka adalah bertukar berat badan.

H-3 milad Ahmad.
Wajah Ahmad semakin suram saja. Dan hari ini dia mengerjakan PR di sekolah, tak biasanya. Karena biasanya dia tiba dengan PR yang tuntas. “Katanya, yang paling banyak butuh kalori itu berpikir.” Alasan level orang gila. Menyebalkan.

H-2 dan H-1 milad Ahmad.
Tak ada yang mengejutkan darinya. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas barunya belakangan ini. Sebelum bel imtaq pasti dia sedang membaca buku Biologi sambil menggigiti mendoan atau bacem dengan tidak setengah hati —mengingat protein nabati tidak seefektif itu baginya, dia merasa dikhianati profesor botak yang waktu itu. Kemudian saat waktu imtaq, dia mengaji dengan bibir sensual. Saat bel istirat berbunyi, Ahmad segera menghampiri Hanif dan meninggalkanku.

---Radian---

Milad Ahmad.
Sebetulnya, di kelas, Ahmad terkenal rajin dan pintar. Kalau kau tanya pada siapapun yang ada di kelasku, siapa lelaki paling baik, maka mereka akan menjawab: “Ahmad Wisnuhartama!” dengan alasan sholeh, pintar, mau berbagi, dan bersahabat serta jago olahraga. Bagi mereka, Ahmad sosok ideal dan nyaris sempurna, kalau menilainya sambil memejamkan mata. Itupun kalau yang ditanya laki-laki. Kalau kau bertanya pada perempuan, maka jawaban mereka serempak adalah: “Gilang Hamdani Syarif!” Hampir serius.
Tapi bukan berarti yang peduli pada Ahmad hanya laki-laki XI IA 2 yang kakinya bau ketek, keteknya bau mulut, dan mulutnya bau kaki. Dia punya semacam “aura” tersendiri yang akan membuat orang-orang di sekitarnya begitu sayang padanya. Mungkin karena biasanya dia adalah sumber PR yang terpercaya.
Begitu, dan memang begitu persisnya. Seperti pada hari Milad-nya yang niatnya sweetseventeen itu. Waktu itu lima belas menit sebelum bel masuk. Dan berhubung PR yang masuk sudah berada pada kuota, sejak jam enam pagi kelas sudah mulai ramai. Lalu tambah ramai lagi ketika pagi cerah ceria dikejutkan oleh suara blepaak! Semua anak hanya bisa menoleh saja tak peduli. Namun ketika dari luar terdengar jeritan isu bahwa ada tiang bendera roboh, semuanya berhamburan keluar karena semua—termasuk aku—menyadari bahwa isu itu hanyalah mitos. Dan yang sebenarnya yang roboh adalah seseorang atau sesuatu yang mirip tiang bendera.
Betul lagi kan. Ahmad pingsan di sebelah tiang bendera yang hanya beberapa langkah dari muka kelasku. Tragis. Ahmad yang biasanya kuat berkali-kali pulang malam demi mengurus rohis, sah-sah saja masih giat luntang-gelimpang kesana-kemari mengurusi sekolah dan yayasan kecil. Dan cuma karena gempur makan sejenak, badannya selama seminggu ini lemah daya, hingga puncaknya pingsan di Miladnya sendiri. Ahmad tidak ikut pelajaran sampai jam istirahat pertama.
Pada istirahat pertama, UKS penuh dengan 36 anak XI IA 2 yang berkerumun mengunjunginya. Apa kubilang, Ahmad memang punya semacam aura. Walau di luarnya terlihat garang, tapi di dalamya terdapat hati nan lembut yang menjadi mata air bagi siapa saja. Tssaah...
“Ga penting, mau bodi ente kaya apa juga. Ga pengaruh. Lebih baik cungkring begini tapi akhlak dan amalnya gemuk bukan buatan. Daripada sekel seksi tapi PR luntang-lantung. Mana pelit, lagi! Sepotek tempe amat berarti,” Adi, si ondel-ondel kelas, cungas-cungis. Tak biasanya dia mengeluarkan mutiara, walau bahasanya kacau.
Hanif terharu mendengar Adi yang bijak mendadak. Adi geli melihat Hanif yang mirip beruang Teddy tak pernah dicuci. Ahmad melongo penuh arti. Beberapa wanita tersedak, sedangkan yang lainnya bingung atau jijik. Walaupun aku laki-laki, aku berada pada kondisi yang terakhir. Aku rasa Ahmad mengerti dan aku tak tahu harus berkata apa lagi. Tapi kurasa, Ahmad akan ber-body seperti yang dia inginkan suatu hari nanti. Entah kapan. Kulihat wajahnya lebih bercahaya dari biasanya.

The End




Radian Al Azis
sajakJanuary 15, 2009 12:44 am

Aku percaya kamu
Bukan karena tak ada dusta dalam lisanmu
Dan memang ada, memang
Namun ini akhir jadinya ada di tanganmu
Keadaan itu yang pastikanku harus percaya kamu

Aku percaya kamu
Bukan karena dunia hari ini ada di matamu
Dan sungguh ku tak melihat, sungguh
Tapi aku melihatmu kini tepat di situ
Selama di situ pula aku mesti percaya kamu

Aku percaya kamu
Bukan sebab ku memujamu
Dan sebenarnya tidak ada, benar
Tapi yang ku puja memerintahkanku untuk itu
Membuatku percaya kamu dalam situasi apapun
Mendapatiku beserta batasannya

Hal terbesar yang pastikanku percaya kamu
Dan aku sungguhan percaya kamu

Buat yg dapat kepercayaan

Uncategorized 12:43 am

Terjadi Rabu, 14 January 2009

Astaghfirullah...
Aku tak tahu ini sedang menangis karena apa. Karena kelewat lelah, karena tadi terkunci di tangga sekolah, karena bapak kecelakaan, atau karena mengetahui orang yang diharapkan sebagai takdirku rupanya sudah beristri...

Huff... Iya, kawan, semuanya terjadi hari ini.
Saat ini aku berbaring telentang di lantai tanpa alas dan masih berseragam lengkap sampai jilbab. Kaki ini terkangkang dan tanganku terrentang. Seluruh tubuhku sejajar lantai. Wajahku kaku dan mata ini belum juga mau berkedip sejak beberapa waktu. Oh ... Mataku panas, berair, berair. Napasku jadi sesak seperti penykitan asma yang dipeluk kucing. Beruntung, adzan maghrib berkumandang di tengah senja yang gersang begini--walau sudah 2 hari hujan deras terus.
Tangis ku jadi teralihkan demi menunaikan panggilan sakral nan suci.

Apa sebab tangisku maghrib ini??

Ya, keempatnya terjadi hari ini: tubuhku remuk kelelahan, sore tadi aku terkunci, bapak kecelakaan, dan baru aku tahu si Anu sudah beristri. Semuanya, keempatnya, terjadi di hari ini. Saklek tragis.

Hari ini lelah sekali.
Badanku belum terbiasa sibuk lagi setelah 2 minggu libur. Aku dan Daus (ketua pelaksana acara yang disekretariskan aku) bersikeras untuk menaikkan proposal acara PASKIBRA yang terdekat ini (kerempeng begini, ototku kencang di paskib). Namun itu berarti semua dikerjakan dari awal selain pengetikan. Maka aku musti mencetak proposal dulu, lalu dijilid (pakai uangku untuk sementara), lalu kutandatangani, pergi ke kelas di lantai atas untuk mendesak ramainya para bujang yang wajahnya tidak terlihat karena rupek demi ditandatangani Adam (Ketua Umum PASKIBRA), kemudian turun ke lantai bawah lagi agar ditandatangani si Daus itu (aku melanggar hierarki tanda tangan yang seharusnya), lalu lagi-lagi meniti tangga ke lantai atas untuk ditandatangani Dwi si Ketua OSIS (beruntung, dia juga PASKIBRA), namun karena dia masih berada dalam kerupekan para bujang apek di kelas Adam tadi, maka propsal berharga itu mesti kurelakan untuk ditinggal dulu dengannya karena guru-guru sudah gegas untuk ngajar. Sampai jumpa proposal, sampai jumpa niatan untuk menaikkan proposal ke wakasek hari ini juga.
Benar saja, Dwi baru mengembalikan proposalnya sepulang sekolah. Dan begitu ku cari Daus untuk bersama menaikkan proposal tahap1, rupanya (benar saja!) dia sudah bablas di angkot 09B yang dia sayang itu. Benar-benar sampai jumpa, itu niatan.
Niat tinggal niat.

Badanku lelah tak terkira. Tugas di sekolah sudah banyak, tapi perut ini tidak mau serius berkompromi akibat subsidinya dikorupsi para betakers (pembetak cilik licik di kelas). Aku mahfum, dan perut yang berisi udara mulai bergejolak. Gejolak bagai kaum muda...

Penat betul, Kawan, hingga tak ingin segera pulang.
Maka sepulang sekolah aku bersekutu dengan Umil, yang mendadak licik karnaku, untuk tetap di kelas dan menggunakan komputer kelas  untuk nge-net walaupun jam hak kami sudah lewat.
Tak seseru itu, asal kau tahu.
Tiba-tiba dunia maya jadi hambar betul. Kami jadi menjelajah dengan setengah hati dan tidak seru. Tak seru memang tak seru, tapi rupanya lama juga kami main-main di kelas lantai atas. Sampai akhirnya bosan dan lewat jam 5, kami turun juga. Tapi turun tak jadi turun. Allah, gerbang tangga terkunci. Digembok selapis. Aku dan Umil sempat mematung sebelum akhirna panik mencak-mencak. Teman di luar sempat mengejek, beberapa. Dan saat berusaha mencari Ka Akhmad yang pegang kunci di atas, rupanya sepi sama sekali. Siapa yang mungkin bisa membukanya???
Pak Anas!
Tapi yg lewat rupanya staf lain yang tak aku tahu namanya. Maka kutanyakan padanya.
"Wah, Akhmad-nya sih lagi makan. Pak Anas juga."
Lalu lewat lagi staf yg lain.
"Akhmad-nya mah nanti pulangnya, jam 8" lalu "Paling nemuin cewe-nya."
Aku dan Umil, satu pun tak ada yang mau menunggu segitu lamanya. Lalu lewat si Arif. Menertawakan kami. Hanya untuk menertawakan, lalu bablas yang katanya ingin mencari Nanda agar penderitaan kami ini segera difoto. Sadis! Dobel! Sampai akhirnya di depan gerbang tangga yang menyengsarakan kami ini mulai ramai. Ada pak Anas, Staf yang tadi, guru olahraga beserta kawannya, dan Arif! Sadis! Tiga kali! Habis aku dan Umil dibuat malu tak terperi begini. Semua tertawa. Staf tadi bilang: "Jam 9 malam, katanya. Sini, kalau pesan nasi bungkus, biar saya bungkusin." Lalu semua tertawa lagi. Aku dan Umil panik lagi, dan si Arif kegirangan lagi. Aku jadi sewot lagi.
Setelah tawa yang lebih ramai dan lebih lama, akhirnya staf tadi bilang: "Udah, sana pulang." sambil menggeser gerbang yg tadi terkunci.
Aku dan Umil jadi lega dan kesal. Semua tertawa makin keras. Arif makin girang dan aku makin sewot jadinya.

Sadis! Lipat-lipat kesialan!
Buntutnya aku sampai di rumah di menit-menit dekat maghrib.
Sudah dua, kau hitung?

Menit-menit menuju adzan maghrib di waktu Indonesia Barat.
Aku kesusahan tergopoh-gopoh turun dari angkot 03 akibat barang bawaan dengan bobot taraf kuli kakapan. Muka penumpang yang dekat pintu angkot menceng-menceng saat aku turun. Aku tak enak hati tapi masa bodo.
Melewati pagar rumah, yang aku cari adalah telapak tangan kakek, Bapak, Ibu, dan kakak yang kalau lengkap lima jumlahya. Dan yang pertama kali aku salami tangannya adalah Bapak. Tangannya saja, karena begitu Bapak bersuara, aku baru menoleh wajahnya.
Masya Allah..
Wajah itu. Wajah yang hitam matahari, yang tegas dan mancung itu lebam dan babak belur. Bapak mengerikan bukan karena marah, melainkan akibat merah kulit di matanya, biru pipinya, namun ungu bibirnya. Rupanya Bapak kecelakaan tadi pagi sewaktu mengantar Mba Teti (kakakku no.4) kuliah. Dampaknya, Mba Ade (no.2) bolos mengajar, Mba Teti batal kuliah hari ini, Mba Arni (sulung) dan Mas Feri (no.5) pulang dari tempat kerja setelah dihubungi Ibu yg juga bolos mengajar hari ini.
Masya Allah...
Waktu kusalami, Bapak hanya bicara sedikit yang sungguh, aku tak mengerti  betul apa katanya. Tapi aku ingat bahwa Mba Ade (tebak nomor brp!) berkata bahwa Bapak tak mau dibawa ke RS (Bapak benci dokter dan hal lain yg berbau RS). Dia takut Bapak sampai geger otak.
Memang, bapak bicara lbh sedikit dari biasanya. Mungkin bagi orang lain porsi bicaranya normal, tapi Bapak biasa banyak bicara. Dongengna malam ini betulan hemat kata bagi kami.
Masya Allah...
Nyeri ini Kau tambah lagi. Aku terima adanya. Tulangku sudah remuk redam di sore hari begini. Harga diriku sudah tandas lumayan begini, dan sekarang cemas dibiarkan menggerogoti halus perih begini.
Aku nyeri...
Malam dingin...
Hujan deras lagi...
Obat hatiku rupanya mulai kritis. Dan ada saja kehendak-Nya yg berada di luar dugaan siapapun.

Dan sekali lagi hati ini dilukai.
Tak ada yg salah dalam hal ini, sungguh.
Hanya saja perih bukan buatan. Seperih kabar Bapak kecelakaan yg sebabnya tak ingin ku ucap di sini.
Si Anu rupanya sudah menikah, kawan, sejak lama. Tandas sudah bayang-bayang tak berguna yg selama ini ku hayati. Bersimbah-simbah dosa yang selama ini kulalui hanya demi memimpikan takdir. Berharap dia berpihak pada inginku yg sekarang. Sadis lagi...
Sudah pernahkah ku sebut? Perkara dayang jatuh cinta lain berat lagi perkaranya. Karena secepat apa dia reaksi bawel, semudah itulah ia mudah sakit hati. Perih terkorek pahat pria beristri.

Ah, ingin rasanya aku ceritakan perkaranya dari awal. Terserah ada tidak yang mau dengar. Tapi tak semudah itu. Biarlah sedikit yg tahu. Tapi nyeri malam kamis ini tetap ingin kubagi...

Ugh... Malam begini dingin.
Tapi sedihku diisi sadis berlipat-lipat...
Adakah yang punya jawab???

UncategorizedDecember 6, 2008 9:32 am

Seorang kawan dari (kalau ga salah) Purwakarta pernah cerita tentang saya dan para kawan senang sependeritaan saya yang lain. Isinya kurang lebih, kalau tidak salah seperti ini:

"Kami adalah satu

Jika ada 1000, maka kami adalah satu

Jika ada 100, maka kami tetap satu

Jika ada 10, maka kami yakin kami satu

Jika ada 1, maka itulah kami"

Mengingatkan saya pada kawan2 senang sependeritaan yang tadi. Rindu sekali ke Curug sama-sama lagi. main-main, dan lain-lain...

 

/> 

UncategorizedDecember 3, 2008 9:27 am

Suatu hari, seoran bijak memberikan nasihat kepada murid-muridnya. Dia berkata, "Wahai murid-muridku, manusia itu terdiri dari 4 kelompok, yaitu:

  1. Mereka yang pandai dan mengetahui dirinya pandai, belajarlah kalian kepada mereka
  2. Orang yang pandai namun tidak mengetahui dirinya pandai, mereka adalah orang yang lalai, ingatkanlah mereka
  3. Orang yang bodoh dan mengetahui dirinya bodoh, ajarilah mereka
  4. Orang yang bodoh dan tidak tahu bahwa dirinya bodoh, jauhilah mereka.

Saya suka membacanya. Membuat saya bertanya sendiri, yang mana yang diri saya?

Jika ente, yang membacanya, mengenal siapa saya, saya harap mau memberikan jawaban. Duh, saya lagi bingung. Dan sebenarnya sedang serba ga enak: ga enak badan, ga enak hati, ga enak perasaan, apalagi ga enak kantong. Jadi, sebenarnya niat licik saya adalah agar ente semua mau memberi nasihat. maaf kalau saya licik betulan.

Terima kasih.

Wassalam.... 

UncategorizedDecember 1, 2008 5:59 am


Beberapa hari lalu saya minum Minuman Energy Jreeng (maaf kalau harusnya disensor). Tujuannya untuk apa, mau tahu? Saya ada tugas kelas berat, tingkat atas. Cadas.. LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

Wi.. Ngeri juga judulnya. Saya begadang untuk itu. Hebat, ya, saya? Lalu, ketika dalam perjalanan 14 meter menuju warung abang Ucok, memori lama memanggil nyawa saya. Deugh! Waktu berlalu, jam berbunyi.

Tik..tak..

Waktu itu saya kelas V SD. Jika tahun 2008 saya kelas XI, maka hitung sendiri, itu tahun berapa. Saat itu ibu saya mau lembur demi mengejar deadline pas ngambil rapor (ibu saya guru red.). Maka, demi ketahanan ngelembur semalam suntuk, ibu mengeluarkan ramuan 'joss'nya.

"Bu, indah boleh nyoba ga?" kata seorang anak yang baik hati dan rupanya adalah saya sendiri. Karin, adik sepupu saya yang masih TK itu melirik-lirik pada saya. Apakah niatnya?

"Eh, jangan banyak-banyak! Anak kecil belum boleh," kata ibu yang saat itu berkacamata sambil menghitung daftar nilai dengan sangat bertenaga akibat ke-'joss'-annya.

Mata saya berbinar dan mulai minum seteguk, lalu seteguk lagi. Si Karin yang dari tadi melirik saya rupanya tertarik juga akan ke-'joss'-annya.

"Bude, Karin juga ya?" lalu glek! dan glek! Ibu saya nyungis saja melihat ramuannya diteguk orang lain.

"Enak, mau bikin juga ah," kata Indah, anak baik hati yang tadi. Laludi waktu berikutnya, sudah ada 2 gelas lagi yang 'joss' itu. Saya yang kelas V SD dan si Karin yang masih TK akhirnya juga ikut-ikutan bertenaga akibat 'joss' itu.

Rupanya malam itu, saya dan adik sepupu saya yang masih TK itu mabuk dan membuat heboh rumah. Mabuk di sini dalam artian yang sebenarnya, mabuk minuman. Saya semalaman seperti orang beler (bukan seperti lagi) dan berhasil menjadi begitu menjijikan. Karin tak kalah seru, dia bemain mata dengan ibunya sendiri malam itu. Matanya berkedip-kedip cepat sekali, dan semalaman. Saya saat itu tidak ingat apa-apa tentag itu sampai berhari-hari (atau berminggu-minggu) berikutnya. 

Adakah kawan semua rupanya mengambil hikmah dari pengalaman saya itu Maka itu mungkin salah satu dari:

1. Jangan memberi minuman energy atau minuman dewasalain kepada anak kecil, apalagi yang baik hati seperti saya

2. Jagan begadang di depan anak anda, karena mereka akan meniru

3. Jika tidak ingin hal yang sama terjadi, jangan sekali-kali minum inuman keras, seperti alkohol, etanol, bir, dan es batu

Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

Wassalam.

UncategorizedNovember 26, 2008 12:00 am

Anda tahu kenapa Indonesia tidak menjadi negara maju?

Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu & mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi.

mari kita buktikan :

 

"Balonku ada 5.... rupa-rupa warnanya... merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru... meletus balon hijau, dorrrr!!!"

Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -:)

 

"Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang...kalo berjalan prok..prok.. prok... aku seorang kapiten!"

Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di baitkedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi :

"mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalo berjalan prok..prok.. prok.."

nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :

"mempunyai pedang panjang... kalo berjalan ndul..gondal. ...gandul... atau srek.. srek.. srek.." itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!

 

"Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."

Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!

"Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi... tinggi sekali..kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"

Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!

 

"Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Sby..bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"

Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Malang danJakarta-Surabaya !

 

"Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjanghari dg tak jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li.."

Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit ! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara lagu anak2 dgn presenter agnes monica waktu dia masih kecil adalah Tra la la trili li!), bukan burung!

 

"Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu.."

Ini jelas lagu dewasa dan tidak konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

 

"Nina bobo nina bobo oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk"

menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg penuh nada mengancam

"Bintang kecil dilangit yg biru..."

(Bintang khan adanya malem, lah kalo malem mang warna langitnya biru?)

"Ibu kita Kartini...harum namanya"

(Namanya Kartini atau Harum?)

"Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka" (Nah, gak sopan khan..masa duduk di muka??)

"Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita..." (kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur?

 

Dikutip dari web-nya PPI Kota Bekasi

UncategorizedNovember 12, 2008 7:45 am

Ha? Apa?

Katanya saya diminta tulis tentang sekolah, mungkin. Tapi apa? Waduh, apa ya? Kalau ditanya tentang sekolah, yang saya ingat jadinya PASKIBRA, IKREMA, dan segelintir orang tertentu saja. Jujur, rata-rata saya di sekolah sekitar 12 jam sehari. Lama ya? Lebih banyak di sekolah. Kalau dipikir-pikir, itu yang membuat ibu saya selalu berkata betapa kurusnya badan saya. Jujur benar ibu itu...

Tanyalah kenapa, biar saya jawab. Karena entah bagaimana bisa, yang sering ternguing di kepala saya tentang sekolah adalah teman. Bukan belajar-mengajar. Mungkin karena itu yang lebih menancap dari hal lain. Di sana ada banyak hal untuk diingat, termasuk pelajarannya. Tapi bukan sekarang. Yang sekarang jadi bahan ingatan saya untuk sementara hanya teman-teman saja. Maaf.

Lalu makanannya. Baru pertama kali saya merasa bahwa sate usus itu bisa jadi enak. Dan terjadi di sekolah. Hebat betul kantin yang bisa membuat "usus" yang imejnya terlanjur "demikian" bisa membuat saya ketagihan. Bukan main... Salut saya bagi kantin jempol yang di belakang itu.

Paragraf terakhir. Saya cinta sekali dengan tempatnya. Entah karena lokasinya yang terjangkau 25B, atau dekat Mall atau Rumah Sakit. Tapi yang jelas, saya kerasan sekali untuk berlama-lama di sini. Padahal saya tahu sejuta alasan yang membuat orang ingin cepat pulang dari sini. Sudah jauh dari rumah, angker (teman dan adik kelas saya sempat semacam kesurupan di sini waktu ekskul), tapi tetap saja saya malas pulang. Padahal menginjak tanah di SMAN 2 Bekasi bagi saya berarti sudah berani menantang tugas-tugas yang "begitulah" adanya. Dapat ditarik kesimpulan dari situ. Betapa kuatnya mental saya, ternyata...

Terima kasih. Wassalam...


Waktu Indonesia Barat






MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

free counters




Punya PASMANDA 2007-2008

andis:: tiwi:: daoez:: nuriyu:: adam:: topik:: View shoutbox
ShoutMix chat widget
sin alpha
Sindikat Sebelas IPA Dua
 
Ikhwan Akhwat
Rino Nisa
Adi Ulie
Adit Pima
Bobby Cinonk
Dewa Eka
Fakhrul mPox
Firman Firly
Mr. G. Irna
Gungde Lola
Handi Mute
Arif Ika
Afizd Poppy
Aripin Babang
Nanda Indah
Rizqi Hany
Romy Risya
Rusman Silvy
Sam Siska
Widya Yana
Adil Umil

Links:

Categories:

Search:


Archives:

  • November 2009
    M T W T F S S
    « Jun    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Most Recent Posts

Most Popular Posts

Other:

Meta: