ntara Milad dan Berat Badan Ahmad
“Lang, buku Biologi ane ada di ente ga?” sahutnya sambil melangkah semeter demi semeter mendekatiku. Alisnya bergelombang dan ini menyangkut Biologi, maka aku tahu dia sedang serius.
“Ha? Ng .... Nggak, kayaknya.” Jawabku sekenanya. Ahmad gerah. Bibirnya dikerucutkan sambil menggaruk atas tengkuk. Aku dapat melihat sikunya lancip, sendi dan tulang mendorong-dorong setiap jengkal kulitnya. Dia menunduk kecewa dan aku terdanga-danga demi menyaksikan sepotong wajahnya. Silau dan jauh.
“Duduk dulu, Mad?” tawarku sambil menarik wajah ke langit.
“Nanti, mau cari buku dulu,” jawabnya dengan menjauhi pandanganku. Kemudian menjauh dan aku hanya bisa melihat punggungnya yang tinggi, panjang, namun sempit. Melihat Ahmad sama dengan memaksa manusia menebak berapa tinggi dan berat badannya. Akhirnya aku dapat melihat kepalanya tanpa mendanga saat Ahmad berada pada radius 200 meter.
--- Radian---
Ahmad, karibku, berada tepat dua meter dari perutku. Ahmad sedang duduk di kursi kantin dengan lutut yang naik menjauhi pinggang karena bangkunya terlalu pendek baginya. Sepertinya keadaan itu sulit bagi orang yang menjulang menjauhi pusat Bumi sepertinya. Aku ambil posisi sebelahnya dan mendanga lagi. Detik jam sudah berputar berkali-kali sejak itu.
“Mad, ente mau apa milad nanti? Tujuhbelasan kan?” tanyaku. Bibir bawahku naik ke atas dan kedua alisku naik turun bersamaan. Ahmad menerawang ke atas, seakan atap Kantin Sabar Menunggu jauh di atas ubun-ubunnya. Nafasku tertahan menunggu jawabnya.
“Ingin lebih gemuk, Lang. Enam kilo, aja.” alis Ahmad bertemu. Sekarang dagunya mendekati leher. Wajahnya seperti aktor telenovela yang sedang menatap matahari terbenam. Sendu, malang, tapi seksi.
“Yah, ane kira apaan. Padahal, kalo barang, bakal ane kasih, Mad.”
“Yaudah, ane pengen motor,” jawabnya dengan nada manja menatapku. Aktor telenovelanya berubah menjadi wajah Joshua Di Obok – Obok. Tidak seksi lagi.
“Oh .... minta aja sama Bokap.” Duong! Kepalaku melayang sebentar setelah dihuyung oleh tangan Ahmad yang lebih lebar dari mukaku. Beruntung hanya dihuyung. Coba saja kalau wajahku dilahap tangannya, lebarnya masih akan tersisa untuk mencolok kedua lubang telingaku. Menyakitkan dan geli semriwing. Tapi tak semenyakitkan jika leherku dikempit di ketiaknya dengan begitu mudahnya.
---Radian---
Ahmad tak ingat berapa hari lagi, tetapi dari ucapanku kemarin katanya dia sadar bahwa hanya tinggal hitungan hari dan dia akan harus segera mengurus KTP, dan berlatih mencontreng dua kali seminggu untuk bersiap menghadapi Pemilu. Dan rupanya dia serius masalah enam kilo yang kemarin. Aku lihat dia merubah kebiasaan membeli makanan berat berlimpah menjadi makanan berat meluap, melahapnya habis sampai akhirnya berjalan terhuyung ke kelas dengan wajah biru menahan mual akibat lambung yang sudah melar sana-sini. Wajahnya kupras dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku dibandingkan mengobrol. Bukunya itu adalah macam-macam buku yang sebagian besar bertuliskan DIET atau BERAT BADAN. Mungkin kesulitan menemukan sumber info menggemukkan badan membuatnya mencari kata “diet” dan mencoba menentangnya.
H-7 milad Ahmad.
Ahmad ke sekolah membawa segepok tempe mendoan. Aku heran tapi senang karena pasti akan dapat bagian barang satu-dua biji. Aku pikir dia mempercepat perayaan miladnya yang 2 April menjadi sekarang dengan mentraktir anak sekelas tempe mendoan buatan Mama tersayang. Karena heran, aku bertanya.
“Ini buat bekel. Hemat jajan. Lagian, di buku bilang, golongan darah B itu cepet gemuk kalo makan tempe, tahu, sama sejenisnya yang kedelai juga. Oh ya, hari ini ga berlaku transfer tempe ke temen sebangku, ya,” jawabnya tenang. Aku kecewa. Di sudut mataku terlihat bayangan Adi yang sedang jaipongan seperti penari kecak.
“Lagian, ngapain juga traktir anak sekelas pas milad? Rugi. Mending duitnya buat Ummi,” tambahnya dengan manyun. Kuberi tahu, surga di bawah telapak kaki ibu adalah motto hidupnya. Sedikit kulihat Adi berlagak seperti Dewan Keamanan PBB yang berusaha mendamaikan Israel dengan Palestina.
Ahmad kembali sibuk mengobrak-abrik buku paket Biologi selama bel belum kelewat bawel. Tapi beda dari biasanya, kali ini sambil mengunyah tempe mendoan sampai bibirnya menjadi sensual akibat torehan minyak berlebih.
H-6 milad Ahmad.
“Mad, kata Pak Sugi, olahraganya bebas. Main bola yuk?” ajak seorang lelaki baik hati yang setelah ditelusuri, rupanya adalah aku sendiri.
“Ga sekarang, deh, Lang. Lagi hemat kalori,” jawab Ahmad.
“Ayo, dong. Masa sendirian di kelas, yang lainnya cewak semua? Ih,” bujuk lelaki baik tadi. Ahmad tetap menolak dan berkata bahwa dia tidak akan tetap di kelas nantinya, tetapi hijrah ke kantin Sabar Menunggu. Aku pasrah. Apalagi, para bujang XI IA 2 sudah berisik mengelu-elukan nama Gilang untuk segera bergabung main bola. Aku tak tega menolak keinginan mereka. Maka aku beranjak meninggalkan Ahmad dengan sekarung tahu bacem.
H-5 milad Ahmad.
Ada aura tak sedap menghampiri bangku kelas tempat punggungku bersandar. Seperti aura yang mencerminkan kesesatan, kelicikan, dan keloyoan. Sebenarnya tak ingin, tapi leherku berputar ke arah pintu kelas. Tak lama muncul sumber aura tadi. Betul kataku tadi: keloyoan. Ahmad yang tetap menjulang tinggi berjalan tak seimbang. Terlihat seperti sedang menjaga agar dagunya tidak menghampiri Bumi. Taksirku, ada yang tak beres dengan perutnya.
Benar saja. Sejarahnya begini.
Setelah mengamati berat badan sendiri sejak memulai memperbanyak tempe sampai kemarin, dia tidak menemukan kenaikan berat badan walau sekilo. Ahmad merasa dikhianati profesor bule yang botak di kover buku dietnya. Sehingga dia beralih pada pandangan kuno bahwa yang membuat manusia gemuk adalah lemak. Itulah jalan pikiran yang terbiasa instan. Dan situasi mendukungnya. Semalam, sang Ummi tersayang memasak semur kambing. Dan itulah yang menjadi makan malam dan sarapannya. Dan tebak berapa banyak porsi yang ia makan? Masing-masing dua kali porsinya yang biasa.
Wew!
Porsinya yang biasa saja setara dengan segelas susu. Eh, bukan. Dua kali porsi Gilang yang ganteng! Banyak kan? Dan angan-angan lebih gemuk enam kilo membuatnya lupa dengan penyakit darah tinggi yang diturunkan Abi, suaminya Ummi tersayang. Jadinya, tak usah dijelaskan lagi kan mengapa tubuhnya yang semampai (segala meter pun sampai) nan cungkring ditemukan berjalan terhuyung-huyung, dengan pucat pula! Dengan tulus, akhirnya segera kuhampiri Sam (nama aslinya Samsul) yang notabene adalah anggota PMR agar segera menyeret anak loyo itu ke UKS. Tak lupa, kuperingatkan Sam untuk tidak memapahnya, karena dapat dibayangkan apa yang akan terjadi.
Semoga keteledoran yang sama tidak terjadi padaku, Ya Allah .... Amin.
H-4 milad Ahmad.
Aku tetap bertemu Ahmad, tapi bukan di sekolah karena ini hari Minggu. Saat OL di MSN jam sembilan pagi, aku lihat nickname baru: mad_mutz. Menjijikkan. Tapi aku tahu itu pasti si Ahmad. Benar saja.
mad_mutz: lang
akhi_gil: hoi?
mad_mutz: td an nimbang. naek. hmpr 1/2 kilo
akhi_gil: masa?
mad_mutz: kya’a. jrum’a geser dkit
(lama sunyi dariku)
akhi_gil: oo...
H-4 milad Ahmad.
Tidak biasanya si Ahmad lengket sama Hanif yang biasa dipanggil Gendong, Gempal Bodong. Tadi, mereka berdua jalan beriringan keluar kelas dengan membawa gembolan yang dibawa dari rumah masing-masing. Aku tanya Ahmad ketika dia kembali ke kelas dengan bibir yang sensual seperti biasa. Aku bilang bahwa aku mencium bau persekongkolan mereka. Benar lagi. Feeling orang ganteng biasanya memang kuat.
Jadi, Ahmad dan Hanif telah mengikat diri mereka dalam simbiosis mutualisme. Ahmad ingin sekali gemuk sedang Hanif menginginkan kurus. Terhimpit sang mama yang selalu membuatkan bekal untuk sekolah, Hanif yang motto hidupnya sama dengan Ahmad dan berhati selembut handuk merasa serba salah dengan bekalnya. Jadi dia memberikan setengah porsinya —yang sama dengan satu setengah porsiku—untuk diberikan pada Ahmad. Dapat dikatakan bahwa kerjasama mereka adalah bertukar berat badan.
H-3 milad Ahmad.
Wajah Ahmad semakin suram saja. Dan hari ini dia mengerjakan PR di sekolah, tak biasanya. Karena biasanya dia tiba dengan PR yang tuntas. “Katanya, yang paling banyak butuh kalori itu berpikir.” Alasan level orang gila. Menyebalkan.
H-2 dan H-1 milad Ahmad.
Tak ada yang mengejutkan darinya. Aku sudah terbiasa dengan rutinitas barunya belakangan ini. Sebelum bel imtaq pasti dia sedang membaca buku Biologi sambil menggigiti mendoan atau bacem dengan tidak setengah hati —mengingat protein nabati tidak seefektif itu baginya, dia merasa dikhianati profesor botak yang waktu itu. Kemudian saat waktu imtaq, dia mengaji dengan bibir sensual. Saat bel istirat berbunyi, Ahmad segera menghampiri Hanif dan meninggalkanku.
---Radian---
Milad Ahmad.
Sebetulnya, di kelas, Ahmad terkenal rajin dan pintar. Kalau kau tanya pada siapapun yang ada di kelasku, siapa lelaki paling baik, maka mereka akan menjawab: “Ahmad Wisnuhartama!” dengan alasan sholeh, pintar, mau berbagi, dan bersahabat serta jago olahraga. Bagi mereka, Ahmad sosok ideal dan nyaris sempurna, kalau menilainya sambil memejamkan mata. Itupun kalau yang ditanya laki-laki. Kalau kau bertanya pada perempuan, maka jawaban mereka serempak adalah: “Gilang Hamdani Syarif!” Hampir serius.
Tapi bukan berarti yang peduli pada Ahmad hanya laki-laki XI IA 2 yang kakinya bau ketek, keteknya bau mulut, dan mulutnya bau kaki. Dia punya semacam “aura” tersendiri yang akan membuat orang-orang di sekitarnya begitu sayang padanya. Mungkin karena biasanya dia adalah sumber PR yang terpercaya.
Begitu, dan memang begitu persisnya. Seperti pada hari Milad-nya yang niatnya sweetseventeen itu. Waktu itu lima belas menit sebelum bel masuk. Dan berhubung PR yang masuk sudah berada pada kuota, sejak jam enam pagi kelas sudah mulai ramai. Lalu tambah ramai lagi ketika pagi cerah ceria dikejutkan oleh suara blepaak! Semua anak hanya bisa menoleh saja tak peduli. Namun ketika dari luar terdengar jeritan isu bahwa ada tiang bendera roboh, semuanya berhamburan keluar karena semua—termasuk aku—menyadari bahwa isu itu hanyalah mitos. Dan yang sebenarnya yang roboh adalah seseorang atau sesuatu yang mirip tiang bendera.
Betul lagi kan. Ahmad pingsan di sebelah tiang bendera yang hanya beberapa langkah dari muka kelasku. Tragis. Ahmad yang biasanya kuat berkali-kali pulang malam demi mengurus rohis, sah-sah saja masih giat luntang-gelimpang kesana-kemari mengurusi sekolah dan yayasan kecil. Dan cuma karena gempur makan sejenak, badannya selama seminggu ini lemah daya, hingga puncaknya pingsan di Miladnya sendiri. Ahmad tidak ikut pelajaran sampai jam istirahat pertama.
Pada istirahat pertama, UKS penuh dengan 36 anak XI IA 2 yang berkerumun mengunjunginya. Apa kubilang, Ahmad memang punya semacam aura. Walau di luarnya terlihat garang, tapi di dalamya terdapat hati nan lembut yang menjadi mata air bagi siapa saja. Tssaah...
“Ga penting, mau bodi ente kaya apa juga. Ga pengaruh. Lebih baik cungkring begini tapi akhlak dan amalnya gemuk bukan buatan. Daripada sekel seksi tapi PR luntang-lantung. Mana pelit, lagi! Sepotek tempe amat berarti,” Adi, si ondel-ondel kelas, cungas-cungis. Tak biasanya dia mengeluarkan mutiara, walau bahasanya kacau.
Hanif terharu mendengar Adi yang bijak mendadak. Adi geli melihat Hanif yang mirip beruang Teddy tak pernah dicuci. Ahmad melongo penuh arti. Beberapa wanita tersedak, sedangkan yang lainnya bingung atau jijik. Walaupun aku laki-laki, aku berada pada kondisi yang terakhir. Aku rasa Ahmad mengerti dan aku tak tahu harus berkata apa lagi. Tapi kurasa, Ahmad akan ber-body seperti yang dia inginkan suatu hari nanti. Entah kapan. Kulihat wajahnya lebih bercahaya dari biasanya.
The End
Radian Al Azis



